Pamulang.net - Palembang, Hari ke 2 lebaran rasa penasaran selama 3 tahun tentang melihat Al-Qur'an raksasa yang terukir di lembaran papan kayu selalu terbayang bagaimana bentuknya.  Coba cari informasi tentang keberadaan penyimpanan/ruang pamer Al Quran Raksasa tersebut pada saat ini, baik melalui dunia maya (searching) maupun bertanya langsung pada masyarakat di sekitar palembang jawabannya tahu dan banyak yang tidak tahu, hasilnya kurangnya informasi yang tersedia. 

Seperti kita ketahui, Al-Qur'an adalah kitab suci bagi umat agama Islam. Al-Qur'an Merupakan bagian dari rukun iman dan umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi umat manusia dan disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril. Wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW adalah sebagaimana terdapat dalam surat Al-'Alaq.

Akhirnya terwujud juga keinginan ini melihat Alquran raksasa yang di ukir pada media kayu, dimana sejumlah ulama dan seniman kaligrafi Sumatera Selatan berhasil menorehkan sejarah baru dalam dunia kaligrafi.

Al Quran Raksasa 230 juz ayat suci Al-Quran berhasil dipahat/diukir ala khas Palembang dalam lembar kayu dan menghabiskan kurang lebih 40 meter kubik kayu tembesu dengan biaya tidak kurang Rp 2 miliar, dimana masing-masing lembar ukuran halamannya 177 x 140 x 2,5 sentimeter dan tebal keseluruhannya termasuk sampul mencapai 9 meter.

Al-Quran yang terdiri dari 630 halaman ini juga dilengkapi dengan tajwid serta doa khataman bagi pemula. Setiap lembar terpahat ayat suci Al-Quran pada warna dasar kayu coklat dengan huruf arab timbul warna kuning dengan ukiran motif kembang di bagian tepi ornamen khas Palembang yang sangat indah di pandang dan enak dibaca. Proses pembuatannya sendiri memakan waktu relatif lama, sekitar tujuh tahunan.

Al Quran Raksasa ini terbesar dan pertama di dunia dalam bentuk Al Quran 30 juz yang di buat pada media dari kayu jenis tembesu. Al-Quran terbesar ini sebelum resmi dipublikasikan, sengaja di pajang seluruh ayat-ayat suci di dalam ruang pamer Masjid Agung Palembang selama tiga tahun untuk mendapat koreksi dari seluruh umat.

Pada akhir 2011, Al-Quran ini dinilai layak untuk dipublikasikan dan pada Senin, 30 Januari 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama seluruh delegasi konferensi parlemen Organisasi Konferensi Islam (OKI) meresmikan penggunaan Al-Quran yang disebut sebagai Al-Quran terbesar yang dicetak di atas lembaran kayu tembesu.

"Saat ini anda dapat mengunjungi ruang pamer Al Quran Raksasa yang dinamai Al Quran Al Akbar ini di kompleks Pondok Pesantren IGM di kawasan Gandus setiap hari pada pukul 09.00-17.00, tepatnya di kampung Suka Bujang kelurahan Gandus, kecamatan Gandus Kotamadya Palembang Provinsi Sumatera Selatan" Ujar Sarkoni, salah satu petugas pengelola pada saat itu, Selasa 30/7/2014.

Al Quran Raksasa " Selain itu ucapnya, tahun ini adalah tahun ketiga sejak dilaunching dan dipublikasikan untuk masyarakat umum di kompleks Pondok Pesantren IGM di kawasan Gandus, dimana karena berat masing-masing lembar kurang lebih 40 - 45 kg dan keterbatasan tempat dan dana pemeliharaan maka hanya dapat dipublikasikan sebagian saja.".

Lebih jelasnya bila anda ingin melihat Al Quran Raksasa tersebut, dari arah jakarta dapat melalui jembatan Musi II yang membentang sungai Musi Palembang. Pada ujung jembatan tersebut dapat berbelok ke kiri dan sudah merupakan wilayah kawasan Gandus, silahkan lihat papan penunjuk yang kecil atau bertanya pada penduduk sekitar tentang tempat penyimpanan Al Quran Raksasa di pondok pesantren IGM.

Namun bila anda datang dari arah jambi, sebelum naik jembatan Musi II yang membentang sungai Musi Palembang dapat men kiri dan berbelok ke kanan ke arah Gandus tempat penyimpanan Al Quran Raksasa di pondok pesantren IGM berada.

Untuk masuk dan melihat anda di kenakan biaya / uang infak pada saat kami masuk sebesar Rp. 5.000 dimana uang tersebut dimanfaatkan sebagai biaya operasional petugas dan beberapa pemeliharaan yang terasa sangat kurang akibat minimnya dana yang ada. Harapan salah satu petugas semoga pemerintah dapat membantu dana dan dapat melestarikan karya seni tersebut untuk dapat dinikmati umat Islam dari mana pun berada

Akhir kunjungan, kami bertemu dengan salah satu penggagas dan tokoh muda Islam serta Anggota terpilih kembali DPR-RI 2014-2019 H.Syofwatillah Mohzaib,S.Sos.I, yang dikenal dengan nama kak Opat. " Semoga Syiar dakwah dapat bergema ", ujarnya.