Siapa yang Paling Banyak Menggunakan AI?
Meski diliputi kekhawatiran, 36% profesional industri game mengaku telah menggunakan alat AI generatif dalam pekerjaan mereka sehari-hari. Namun, tingkat adopsi berbeda signifikan berdasarkan peran.
Hanya 30% pekerja studio game yang menggunakan AI, sementara angkanya melonjak hingga 58% di sektor penerbitan, pemasaran, hubungan masyarakat (PR), dan dukungan. Perbedaan ini mencerminkan resistensi lebih besar di kalangan kreator inti seperti seniman dan desainer.
Bahkan di studio besar seperti Electronic Arts (EA), sejumlah pengembang melaporkan bahwa AI justru menciptakan pekerjaan tambahan. Aset visual dan desain yang dihasilkan AI kerap mengalami “halusinasi” atau kerusakan, sehingga harus diperbaiki ulang secara manual.
Takut Melatih Pengganti Diri Sendiri
Kekhawatiran lain yang mencuat adalah anggapan bahwa penggunaan AI sama dengan melatih sistem yang berpotensi menggantikan mereka di masa depan.
Ketakutan ini diperkuat oleh berbagai peristiwa PHK besar, termasuk pemecatan ratusan karyawan Meta dari divisi metaverse, yang mencakup tim pengembang game realitas virtual.
Masa Depan yang Penuh Tanda Tanya
Laporan GDC menggambarkan industri game yang berada di persimpangan jalan: antara janji efisiensi AI dan ancaman nyata terhadap keamanan kerja serta kreativitas manusia.
Meskipun AI semakin sulit dihindari, kepercayaan terhadap perannya dalam pengembangan game justru terkikis dengan cepat.
(digitaltrends)












